Spektakuler! Wayang Kulit “Parikesit Dadi Ratu” Meriahkan 100 Tahun Gontor, Ribuan Santri Padati Lapangan Hijau

Wayang Kulit

folkkonoha – Perayaan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menghadirkan berbagai kegiatan istimewa yang memadukan pendidikan, dakwah, budaya, dan penguatan nilai-nilai keislaman. Salah satu agenda yang paling menyita perhatian adalah pagelaran wayang kulit dengan lakon “Parikesit Dadi Ratu” yang digelar di Lapangan Hijau Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

Pagelaran tersebut bukan sekadar pertunjukan seni tradisional. Di lingkungan Gontor, wayang kulit diposisikan sebagai media dakwah, pendidikan karakter, dan sarana menanamkan nilai kepemimpinan kepada para santri. Ribuan santri, guru, alumni, serta masyarakat umum memadati lokasi acara sejak Sabtu malam hingga Minggu dini hari untuk menyaksikan pertunjukan yang menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan 100 Tahun Gontor.

Momentum satu abad Gontor menjadi peristiwa bersejarah bagi salah satu pesantren modern terbesar di Indonesia. Berdiri sejak tahun 1926, Gontor telah melahirkan banyak tokoh nasional, ulama, akademisi, diplomat, hingga pemimpin berbagai lembaga pendidikan Islam. Karena itu, peringatan 100 tahun tidak sekadar menjadi perayaan usia lembaga, melainkan refleksi perjalanan panjang pendidikan Islam modern di Indonesia.

Wayang Kulit Jadi Agenda Istimewa 100 Tahun Gontor

Di tengah era digital dan modernisasi pendidikan, Gontor tetap mempertahankan tradisi budaya yang dianggap memiliki nilai pendidikan tinggi. Salah satunya adalah seni pewayangan.

Pada peringatan satu abad kali ini, Gontor menghadirkan dalang ternama asal Surakarta, Ki Bayu Aji, yang membawakan lakon “Parikesit Dadi Ratu”. Pertunjukan berlangsung meriah dan menjadi salah satu agenda budaya terbesar dalam rangkaian peringatan 100 Tahun Gontor.

Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor menilai bahwa wayang bukan sekadar hiburan rakyat. Seni tradisional tersebut mengandung pesan moral, nilai kepemimpinan, keteladanan, serta pelajaran hidup yang relevan bagi generasi muda saat ini.

Tema besar yang diangkat dalam peringatan ini adalah:

“Mensyukuri Masa Lalu dengan Nilai-Nilai Abadi dan Membekali Masa yang Akan Datang dengan Berbagai Tantangan.”

Tema tersebut dianggap sejalan dengan pesan yang terkandung dalam kisah Parikesit, seorang pemimpin muda yang harus menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan amanah kerajaan.

Data Singkat Pagelaran Wayang Kulit 100 Tahun Gontor

KeteranganInformasi
AcaraPeringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor
LokasiLapangan Hijau PMDG, Ponorogo
Tanggal6–7 Juni 2026
LakonParikesit Dadi Ratu
DalangKi Bayu Aji (Surakarta)
Jumlah PenontonLebih dari 4.000 orang
PesertaSantri, guru, alumni, masyarakat
TemaMensyukuri Masa Lalu dengan Nilai-Nilai Abadi dan Membekali Masa yang Akan Datang dengan Berbagai Tantangan
TujuanDakwah, pendidikan karakter, pelestarian budaya
Rangkaian AcaraBagian dari peringatan 100 Tahun Gontor

Mengapa Memilih Lakon Parikesit Dadi Ratu?

Pemilihan lakon Parikesit Dadi Ratu bukan tanpa alasan.

Dalam kisah pewayangan Jawa, Parikesit merupakan cucu Arjuna yang akhirnya menjadi raja penerus Kerajaan Hastinapura setelah berakhirnya perang besar Bharatayudha. Kisah tersebut menggambarkan perjalanan seorang pemimpin muda dalam menerima amanah besar dan menghadapi berbagai ujian kepemimpinan.

Nilai-nilai tersebut dianggap sangat relevan dengan dunia pendidikan, khususnya dalam membentuk karakter generasi muda yang kelak akan menjadi pemimpin masyarakat.

Melalui lakon ini, para santri diajak memahami pentingnya tanggung jawab, kebijaksanaan, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan menjaga integritas dalam menjalankan amanah.

Dalam konteks pendidikan pesantren, nilai kepemimpinan menjadi salah satu aspek penting yang terus ditanamkan kepada santri. Gontor selama ini dikenal memiliki sistem pendidikan yang menekankan pembentukan karakter selain penguasaan ilmu pengetahuan.

Karena itu, kisah Parikesit dianggap mampu menjadi sarana pembelajaran yang efektif melalui pendekatan budaya.

Ribuan Penonton Padati Lapangan Hijau

Antusiasme masyarakat terhadap pagelaran ini sangat tinggi.

Lebih dari 4.000 santri, guru, alumni, dan masyarakat umum memenuhi Lapangan Hijau Gontor sejak malam hari hingga menjelang pagi. Banyak penonton yang bertahan hingga pertunjukan selesai karena tertarik mengikuti alur cerita yang dibawakan oleh Ki Bayu Aji.

Suasana semakin semarak karena acara tersebut menjadi salah satu puncak kegiatan budaya dalam rangkaian peringatan satu abad Gontor.

Bagi para alumni, pagelaran wayang menjadi momen nostalgia yang mengingatkan kembali pada tradisi-tradisi besar yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan pondok.

Sementara bagi masyarakat umum, acara tersebut menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana pesantren modern memadukan nilai Islam dengan pelestarian budaya Nusantara.

Wayang Sebagai Media Dakwah

Salah satu hal yang menarik dari pagelaran ini adalah bagaimana wayang digunakan sebagai media dakwah.

Pimpinan Gontor menegaskan bahwa nilai utama dalam pewayangan bukan terletak pada hiburannya semata, tetapi pada pesan moral dan syiar yang terkandung di dalamnya. Wayang menjadi sarana untuk menyampaikan pelajaran kehidupan dengan cara yang lebih mudah dipahami dan diterima masyarakat.

Pendekatan ini sebenarnya memiliki akar sejarah yang panjang di Indonesia.

Pada masa penyebaran Islam di Jawa, para wali menggunakan berbagai media budaya untuk menyampaikan ajaran agama, termasuk seni pertunjukan wayang. Tradisi tersebut kemudian berkembang dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa hingga saat ini.

Gontor memandang bahwa budaya dan dakwah tidak harus dipertentangkan. Selama mengandung nilai kebaikan dan pendidikan, budaya dapat menjadi sarana efektif dalam menyampaikan pesan moral kepada masyarakat.

Pendidikan Karakter Melalui Seni Tradisional

Di era modern, tantangan terbesar pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter.

Melalui pagelaran wayang kulit, para santri diajak memahami berbagai nilai kehidupan seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, kepemimpinan, dan keteladanan.

Nilai-nilai tersebut tidak diajarkan melalui ceramah formal semata, tetapi melalui cerita, simbol, dan dialog yang terdapat dalam pertunjukan wayang.

Metode seperti ini dinilai efektif karena memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan sekaligus membekas dalam ingatan penonton.

Tidak heran jika Gontor tetap mempertahankan tradisi wayang dalam berbagai momentum penting pondok.

Bukti Harmoni Islam dan Budaya

Pagelaran wayang kulit dalam peringatan 100 Tahun Gontor juga menjadi bukti bahwa Islam dan budaya lokal dapat berjalan berdampingan secara harmonis.

Sebagai pesantren modern yang dikenal luas di Indonesia bahkan dunia internasional, Gontor menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman selama diarahkan untuk tujuan pendidikan dan dakwah.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi pesan penting bagi generasi muda bahwa warisan budaya Nusantara perlu dijaga dan dimanfaatkan sebagai sarana membangun peradaban yang lebih baik.

Bagian dari Rangkaian Besar 100 Tahun Gontor

Wayang Kulit

Pagelaran wayang kulit hanyalah salah satu dari berbagai agenda besar yang disiapkan dalam peringatan satu abad Gontor.

Selain wayang kulit, terdapat berbagai kegiatan lain seperti tabligh akbar, festival budaya, kompetisi olahraga, pelayanan kesehatan masyarakat, reuni akbar alumni, hingga berbagai kegiatan sosial dan pendidikan lainnya.

Seluruh rangkaian tersebut dirancang untuk merefleksikan perjalanan panjang Gontor selama satu abad sekaligus mempersiapkan langkah menuju abad kedua.

Bagi Gontor, usia 100 tahun bukan garis akhir, melainkan titik awal untuk menghadapi tantangan pendidikan yang semakin kompleks di masa depan

Pagelaran wayang kulit dengan lakon “Parikesit Dadi Ratu” menjadi salah satu momen paling berkesan dalam peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Lebih dari sekadar hiburan, pertunjukan ini menghadirkan pesan tentang kepemimpinan, tanggung jawab, keteladanan, dan pentingnya menjaga nilai-nilai moral dalam menghadapi perubahan zaman.

Melalui perpaduan dakwah, pendidikan, dan budaya, Gontor kembali menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi pusat peradaban yang mampu merawat tradisi sekaligus menjawab tantangan masa depan. Di usia satu abad, Gontor tidak hanya merayakan sejarah, tetapi juga menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan generasi pemimpin yang berilmu, berakhlak, dan berwawasan luas.

Referensi

  1. ANTARA Jatim – Wayang Kulit 100 Tahun Gontor Jadi Media Dakwah Para Santri
  2. Merdeka.com – Wayang Kulit Gontor: Media Dakwah dan Pendidikan Karakter di Peringatan 100 Tahun PMDG
  3. Detik Jatim – Alasan Gontor Tetap Pentaskan Wayang Kulit di Usia 100 Tahun
  4. iNews Ponorogo – Peringati 100 Tahun Gontor, PMDG Gelar Pagelaran Wayang Kulit Bersama Ki Bayu Aji
  5. BeritaJatim – Tak Sekadar Tontonan, Wayang Kulit di Pondok Gontor Jadi Media Pendidikan Karakter
  6. Koran Jakarta – Wayang Kulit Jadi Media Dakwah dan Pendidikan Karakter dalam Peringatan 100 Tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *